Ketika Aku Menulis

blankidea menulis
peralatan ketika menulis

Apa yang paling menarik ketika kau menulis puisi, atau sajak? Menariknya ketika aku menemukan sebuah kalimat yang aku sendiri tersentuh dengan kalimat itu.
Contoh ketika aku menulis sajak :
"Kadang-kadang rinduku menyeramkan. Ia memeras bergelas air mataku. Tumpah ruah di balik bantal. Tempat mataku bersembunyi.”
Sajak itu benar-benar membuatku heran, apa yang aku pikirkan sehingga aku bisa menulis itu. Apakah karena memang aku sering menangis tengah malam?
Dalam satu minggu aku pasti mengagendakan acara menangis. Menangis bukan soal kesedihan, menangis soal perasaan. Kadang kita perlu menangis untuk sesuatu yang menyentuh, mengharukan, bukan tentang masalah kita. Kadang kita dipaksa menangis karena hati kita tak mampu menahan luapan kebahagiaan. Tangis itu soal ekspresi.
Beberapa cara yang aku gunakan untuk menangis. Selain membaca novel romance, juga menonton film drama. Kenyataan menangis membuat mataku sampai saat ini masih sehat, meski sudah tujuh tahun bekerja didepan komputer.
Kadang-kadang masih bingung dengan sajak tadi. Bagaimana bisa aku tiba-tiba menulis sajak seindah itu. Menurutku indah. Entah menurut pembaca yang lain.
Sama halnya ketika aku menulis “sajak kayu”;
"Rinduku adalah kapak yang berat dan tajam. Ia sering memenggal kepalaku dimalam sunyi. Lewat kata demi kata yang kutulis sendiri. | Rinduku kepadamu serupa sajak itu. Menyakitkan, mendarah-darah, memenggal-menggal. | Aku hanyalah kayu, yang menunggu jadi abu. Setelah terbelah dan kemudian terbakar.”
Setelah menulis dan kuposting di facebook ku, aku masih benar-benar heran. Kalimat itu, siapa yang membisikan?
Ketika aku menulis itu, aku teringat dengan puisi Djoko Pinurbo yang berjudul “Kamus Kecil”. Aku ingin membuat sebuah puisi dengan apa yang aku rasakan, tapi dengan deskripsi yang paling mudah dipahami orang lain. Tetapi tetap indah dibaca orang. Tetap merdu didengar orang.
Tiba-tiba saja jempolku ini mengetiknya di layar tabletku.
Sajak itu benar-benar hidup ketika aku benar-benar ingin menyampaikan apa yang aku ingin sampaikan kepada dunia. Aku benar-benar ingin semua orang tahu seperti itulah aku. Tanpa aku tutup-tutupi, tapi tetap dengan sesuatu yang tidak mengecilkan aku.
Aku memikirkan diriku sendiri, jelas. Karena memang sajak yang aku tulis semuanya tentang aku. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang ketidak-konsistennya perasaan.
Tuhan maha membolak balikan hati. Maka tiada yang salah ketika sajakku tiba-tiba berbeda rasa.
Salah satu sajak yang paling mengesankan dan paling mewakili isi hatiku adalah sajak yang kutulis sejak 2007. Tulisan itu sudah kusalin berulang-ulang di blog, di ebook, di facebook dan sebagainya.
Judulnya “andakan”;
"Andaikan ada, rasanya percuma. Andakan tiada, rasanya tak sempurnah. Andaikan meminta, rasanya hina. Andaikan menerima, rasanya tak akan pernah. | Andaikan dicari, apakah akan ditemui? Andaiakan di nanti, akankah ia kembali? Andaikan di cintai, apakah ia mengerti? Andaikan di benci, apakah ia peduli? | Rasanya lebih baik pergi.”
Perasaan yang tegambar dalam sajak itu, bertahan hingga 5 tahun lamanya. Tepatnya hingga 2012.
Salah satu tulisan yang begitu mewakili hatiku saat ini adalah sajak yang hampir kutulis bersamaan dengan “sajak kayu” tadi.
"Mungkin suaraku yang lirih. Mungkin kalimatku yang ambigu. Atau mungkin, bahasaku bukan bahasa mereka. | Aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu. Tapi tidak ada yang mengerti. | Aku harap, bukan karena tidak mau mengerti.”
Untuk saat ini, sajak ini benar benar menggambarkan apa yang aku rasakan. Ketika kita sedang menginginkan sesuatu. Tapi tidak ada satupun yang bisa mendukung. Bahkan hanya sekedar membenarkan pun tidak ada.
Jadi apa yang aku rasakan ketika menulis? Mencari sedalam dalamnya perasaanku dan aku tumpahkan lewat kesepuluh jariku. Aku benar-benar “menyampah” ketika menulis.
Apa yang kamu rasakan ketika menulis?

Comments